Hentikan Kebiasaan Buruk Saat Mendisiplin


Sumber: Majalah Parenting Indonesia Edisi November 2008

Hentikan kebiasaan buruk saat mendisiplin, mulai dari menuntut sampai memberi ancaman kosong. Gantilah taktik yang tidak berhasil dengan yang sudah terbukti sukses diterapkan oleh Dr. Marianne Neifert, M.D. (Dr. Mom).

Anak-anak bukan satu-satunya yang kadang berperilaku bisa bikin frustrasi. Jika Anda bertanya pada anak Anda, ia mungkin akan bilang, Anda pun bisa cukup menyebalkan, apalagi kalau sudah menyangkut urusan disiplin. Parahnya lagi, Anda mungkin sebenarnya sudah tahu betapa jeleknya Anda kalau sudah menuntut, berteriak, atau mengancam anak dengan berbagai konsekuensi yang tidak masuk akal.

Kok, bisa seperti itu, sih?

Mungkin Anda hanya terlalu lelah mencari cara-cara baru menghadapi kenakalan Si Kecil. Mungkin juga, ada satu teknik yang berhasil diterapkan beberapa kali, dan Anda masih saja menggunakannya, meski ternyata sudah tidak manjr lagi. Berbekal kesabaran (pada anak dan diri sendiri), Anda bisa belajar mendisiplin anak dengan lebih positif.

MENUNTUT

Kita semua menuntut. Dan, kita semua tahu betapa tak bergunanya cara itu. Entah anak Anda akan terpaksa berbohong (“Aku sudah cuci tangan! Beneran!”), atau ia akan belajar mengabaikan Anda.

Yang harus dilakukan: Lakukan kontak mata dan nyatakan harapan Anda setenang mungkin. Lebih sedikit kata-kata akan lebih baik. Alih-alih berkata: “Berapa kali, sih, Mama harus bilang kalau kamu tidak boleh makan di ruang tamu?”, katakan: “Makan tidak boleh di ruang tamu.” Ketika Anda ingin mengingatkan Si kecil untuk melakukan sesuatu, cobalah mengungkapkannya dengan kata yang sederhana, misalnya, “Jam tidur.”

Kapan pun memungkinkan, sambungkan permintaan Anda dengan sesuatu yang iangin dilakukan Si Kecil, misalnya, “Setelah kau membantu Mama merapikan puzzle, kita bisa main di luar.” Dan, cobalah untuk tidak terlalu banyak memberi perintah. Akan lebih mudah baginya untuk melakukan satu hal saja (memakai sepatu) daipada melakukan serentetan perintah sekaligus.

BERTERIAK

Apa yang terjadi ketika kita menuntut, terjadi juga ketika kita berteriak. Kita semua melakukannya, dan kita semua merasa bersalah tiap kali melakukannya. Bahkan jika memang membuahkan hasil, itu hanya akan mengajarkan pada anak-anak, ia boleh berteriak kalau marah.

Yang harus dilakukan: Marahi dia (anak Anda perlu tahu kesalahannya), tapi jangan sampai meninggikan nada suara atau kehilangan kesabaran. Amarah yang tepat adalah amarah yang menyebutkan kesalahannya (“Tidak boleh ciprat-ciprat air kalau sedang di dalam bak mandi”), berikan penjelasan atas larangannya (“Kalau di lantai ada air, jadinya becek dan licin”). Terapkan konsekuensi untuk kenakalannya (Kalau tidak berhenti ciprat-ciprat juga, Mama angkat kamu dari bak mandi”) dan berikan alternatif yang bisa diterima (“Kamu bisa menuangkan air ke cangkir ini atau memasukkan airnya kembali ke dalam bak”).

MENGUBAH PERMINTAAN JADI PERTANYAAN

Ketika masih jadi mahasiswa kedokteran, saya jadi tahu ternyata tidak boleh bertanya pada pasien-pasien cilik saya, “Boleh kulihat telingamu?” karena seringkali mereka akan menjawab, “Tidak!” lalu menutup telinga. Tapi, itu kebiasaan yang sulit untuk diubah, apalagi setelah berbulan-bulan memberi pertanyaan retorik pada Si Kecil sebagai cara menciptakan percakapan – -“Bagaimana kalau kita sarapan sekarang? Asyik, kan?”.

Yang harus dilakukan: Nada suara dan pilihan kata Anda bisa sangat berpengaruh dalam menciptakan kerjasama. Jadi, ingatlah untuk membentuk ekspektasi Anda dengan cara sopan dan hormat dengan menambahkan “tolong” dan “terima kasih”. “Mama minta tolong ya, sekarang matikan TV, lalu kamu siap-siap.”

MEMBERI PERINGATAN KOSONG

Peringatan yang baik bisa manjur dalam strategi pendisiplinan. Masalah muncul ketika Anda mengancam dengan marah, dan terlalu melebih-lebihkan (“Kalau kamu begitu lagi, Mama tidak akan mengajakmu keluar seharian”), atau tidak bisa spesifik (“Lihat saja. Kamu pasti menyesal nanti”).

Sama halnya, ancaman yang tertunda tidak akan ada dampaknya bagi batita atau anak usia prasekolah yang masih terlalu fokus pada kejadian saat ini, sehingga lupa apa yang ia lakukan 2 menit lalu (“Kalau tidak berhenti melempar bola, kita tidak akan pergi ke toko buku siang nanti”). Hasilnya? Kelihatannya tidak ada konsekuensu dari kenakalannya. Dan, jika Anda memberi hukuman nanti, kesannya Anda hanya terlihat keras dan sewenang-wenang.

Yang harus dilakukan: Buatlah peringatan yang lebih spesifik dan langsung. (“Mama peringatkan ya. Kalau kamu tidak mengembalikan mainan itu pada adikmu, Mama terpaksa menghukummy tidak boleh mail untuk sementara'”). Pakai nada suara yang tegas dan tenang, yang memperjelas bahwa Anda yang berkuasa. Jika batita Anda tidak mengubah perilakunya, tanpa menunggu-nunggu lagi, terapkan hukumannya, mungkin sambil menambahkan, “Kelihatannya kamu lebih memilih dihukum.”

MEMBERI JANJI YANG TIDAK REALISTIS

Entah itu meminta mainan yang tidak benar-benar Anda setujui, atau pergi ke tempat yang mahal, anak-anak seringkali mengajukan permintaan yang sulit. Tapi, alih-alih memberi jawaban yang jujur, kita berusaha menghindari konflik dengan memberi jawabanyang tidak jelas, seperti, “Kita lihat saja nanti.” Padahal, menghindari masalah hanya akan membuat anak Anda frustrasi dan merasa seolah-olah tidak dianggap serius.

Yang harus dilakukan: Katakan terus terang — apalagi jika hal yang diinginkannya benar-benar mustahil dikabulkan. Tapi, berikan penjelasan padanya. Misalnya, jika ia minta Gameboy, katakan, “Mama tahu teman-temanmu punya mainan itu dan kamu ingin punya juga. Tapi menurut Mama itu bukan mainan yang bagus untuk anak seumurmu.”

Dan, jika permintaan anak usia prasekolah Anda sebenarnya masuk akal, akui saja. Misalnya, jika ia ingin ke pantai, beritahu dia bahwa Anda juga merasa piknik ke pantai sangat menyenangkan. Lalu, Anda bisa menambahkan, “Mama tidak bisa berjanji apakah kita akan pergi ke pantai musim liburan nanti. Tapi kalau Papa dan Mama sedang merencanakan liburan, kami akan bertanya padamu juga.”

TERLALU SERING MINTA MAAF

Meminta maaf ketika Anda melakukan kesalahan adalah tindakan yang memperkuat ikatan Anda dengan anak-anak. Tapi, anak kecil pun bisa merasakan bila permintaan maaf Anda tidak tulus. Dan, terus-terusan minta maaf untuk kesalahan yang sama lama-lama jadi tidak berpengaruh. Saya tidak akan pernah lupa pada kejadian setelah saya (lagi-lagi) minta maaf pada anak-anak karena mengomeli mereka selama jadwal bersih-bersih rutin Sabtu pagi. Anak sulung saya, Peter, waktu itu 10 tahun, hanya memandang saya, dan dengan kalem bertanya, “Kenapa Mama selalu minta maaf setiap minggu? Kenapa tidak berhenti saja bersih-bersih?”. Setelah sempat terpana, saya mempertimbangkan sarannya, menyewa tukang bersih-bersih, serta berhenti bertengkar dengan anak-anak soal tugas-tugas rumahtangga. (Saya tidak heran lho, ketika Peter kemudian menjadi psikiater)

Yang harus dilakukan: Upayakan dengan tulus untuk mengurangi, misalnya, berteriak. Sebenarnya, ada dua bagian dari sebuah permintaan maaf — kata-kata Anda dan tindakan Anda. Jadi, jika Anda mendapati diri berkali-kali minta maf untuk kesalahan yang sama, cobalah introspeksi diri. Anda juga bisa mencari saran atau pendapat lain dengan bicara pada ibu Anda atau teman yang memiliki anak sedikit lebih besar. Siapa tahu mereka punya pengalaman sama, dan Anda bisa belajar dari keberhasilan mereka mengatasinya.

MENGACUHKAN ANAK

Meski menghapuskan beberapa hak istimewa bisa menjadi hukuman yang efektif, mengacuhkan anak ketika ia ingin berbaikan atau mendiamkannya setelah ia melakukan kenakalan, bisa membuatnya merasa tak cukup berharga untuk mendapat cinta dan kasih sayang Anda. Atau, pura-pura jalan terus ketika Si kecil sedang asyik berlama-lama di suatu tempat, bisa saja membuatnya bergegas kembali ke sisi Anda. namun taktik itu hanya memperkuat ketakutannya untuk ditinggalkan.

Yang harus dilakukan: Beritahu Si Kecil betapa marahnya Anda. Hanya saja, lakukan dengan tenang tanpa membuatnya merasa ditolak. Tujuan Anda adalah menjelaskan bahwa perilakunyalah yang membuat Anda kesal, dan bukan dirinya sendiri. Jika Anda masih emosi, bilang padanya kalau Anda masih menyayanginya dan akan membahas perilakunya nanti. Tentu saja setelah Anda punya kesempatan untuk mendinginkan kepala. Jeda waktu akan membuat Anda berpikir lebih jernih.

Mudah sekali bagi orangtua untuk terjerumus ke dalam jurang masalah pendisiplinan. Jadi, sesekali, luangkanlah waktu untuk memikirkan cara-cara paling tepat yang bisa membuat anak Anda berperilaku baik. Teliti juga apakah Anda perlu memperbaiki teknik Anda. Semakin banyak interaksi positif Anda dengan anak-anak, semua akan semakin bahagia.

——————————————————————————————————————————————————————–

Marianne Neifert, M.D., adalah dokter anak, ibu lima anak, dan pengarang Dr. Mom’s Prescription for Preschoolers

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s