Breastfeeding while News Reporting? Why Not???


sumber: milis asiforbaby

“Tidak ada yang bisa menghalangiku dalam memberikan ASI kepada anakku.” Demikian tekadku yang selalu baergaung di ingatanku. Termasuk saat hendak bekerja kembali.

3 minggu sebelum masuk kerja kembali, saya mulai menyetok ASIP. Awalnya saya ragu, krn hanya berhasil mengumpulkan 60 ml sekali pompa. Namun dgn percaya diri yang tinggi, akhirnya hasilnya selalu naik mjd 120, 200, kadang juga 300an ml.

“Pak, saya minta dispensasi dari kantor boleh tidak selama memberi ASI eksklusif? Saya tidak liputan di lapangan selama 3 bulan ke depan. Setelah itu baru liputan kembali,” ujarku kepada atasan pada hari pertama masuk kerja.

“Maaf ya Mbak, sudah banyak kebijakan kantor untuk Mbak. Lagipula reporter yang dulu2, setelah melahirkan langsung ke lapangan lagi. Nanti siapa yang ke lapangan kalo semua reporter di dalam kantor?.”

Demikian jawaban atasan saya yang membuat sesak dada ini. Bagaimana tidak? Saya adalah seorang reporter yang jam kerjanya sejak pukul 7 pagi hingga 5 sore. Ditambah perjalanan dari rumah-kantor-rumah yang sekitar 2,5 jam jika ditotal pergi-pulang.

Yang menyesakkan awalnya adalah selain harus masih bertempur di lapangan di sela-sela tidur yang kurang, adalah memutar otak bagaimana bisa memerah sambil meliput.

Saya bingung, waduh bagaimana ini, memerah dimana saya??? (Saya merupakan reporter salah satu televisi berita yang harus liputan berpindah-pindah tempat).

Tapi dengan tekad bulat, saya memerah dimana saja. Meski pun tidak disarankan, kalau sangat terpaksa bahkan saya memerah di toilet (tentu yang masih layak tempat menurut saya). Saya pernah memerah di toilet DPR, toilet Kemenkeu, toilet Mabes POLRI, dll. Yang paling nyaman adalah saat liputan di kantor wapres. Karena sudah akrab dengan pegawainya, saya selalu meminjam salah satu ruangan yang jarang dipakai untuk memerah.

Yang paling terberat tentu saja mengatur waktu untuk memerah. Pagi hari sebelum berangkat tentu saja saya memerah. Lalu sekitar jam 11-12 siang, saya merah lagi. Kalau sedang dalam perjalanan, saya memerah di mobil liputan. Jika tidak memungkinkan memerah (karena gerah, ada yang merokok, dll) saya pakai pompa mini elektrik. Terakhir, sekitar jam 3-4 sore, memerah di kantor sebelum/ sesudah menulis naskah.

Pernah suatu hari saya harus meliput tentang RUU PRT. Saya mendatangi banyak tempat, seperti 4 penyalur PRT, wawancara 3 majikan, dan juga wawancara PRT-nya. Saya seperti sales door to door, karena meminta orang yang tidak dikenal untuk mau diwawancara. Itu salah satu tugas yang menyebalkan. Jauh menyebalkan dibanding liputan demo di depan istana merdeka.

Dengan keringat deras karena door to door dari penyalur ke penyalur dan dari rumah ke rumah, akhirya siang hari tiba, payudara saya bengkak. Meskipun penuh keringat, saya masuk mobil liputan dan mulai memerah (tentu saja dengan celemek menyusui). Ketika teman saya berhenti untuk makan pun, saya memilih untuk memerah. Selesai teman saya (juru kamera yang tiap hari selalu beda setiap harinya) makan, saya masih memerah, bahkan ia merokok saat saya memerah! Lalu saya memintanya untuk berhenti merokok. Ia pun berhenti namun setelah itu batuk-batuk. Bimbang hati saya. Sambil memerah, saya berdoa agar ASI saya tetap higienis karena anak saya menanti ASI ini.

Hingga saat ini, saya TIDAK pernah menemukan teman seprofesi saya (reporter di kantor saya) yang pernah memerah ASI. Lain hal dengan selain reporter. Saya sering menemukannya. Bahkan reporter pendahulu saya pun tidak pernah melakukan hal ini dengan alasan TIDAK SEMPAT. Bahkan satu dari mereka pernah berucap, “susu formula juga kan yang buat ahlinya. Daripada susu ibunya, tp cuma kayak air berwarna putih.” Miris sekali hatiku. Teganya dia.

Hingga kini masih sakit hati saya jika mengingat atasan saya yang tidak memberikan dispensasi kepada ibu menyusui untuk bekerja di dalam kantor. Padahal di dalam kantor pun, banyak tugas yang bisa dikerjakan.

Lebih kecewa lagi begitu tahu alasannya, karena reporter banyak perempuan, nanti siapa yang mau ke lapangan? Dalam hati, siapa suruh merekrut reporter perempuan semua!! Belum lagi saat dibilang nanti banyak yang mengikuti. (Kebetulan 2 dari teman saja juga baru dan akan melahirkan).

Kini, saya hanya berdoa, supaya atasan dan para perempuan yang bekerja di media lebih terbuka pikirannya. Bagi saya, gaji yang diterima dari kantor tidak sebanding dengan harga ASI saya. So, I don’t care what people said. I love breastfeeding. I’m addicted breastpumping. Definitely because I love my LUBNA.

Tidak ada satu tangan manusia pun yang dapat menciptakan ASI. Tidak ada seorang perempuan pun yang bisa memiliki ASI jika tidak melahirkan. Jadi, nikmatilah pemberian Yang Maha Kuasa selagi kita bisa!

Salam ASI,

Laila Lubis, Mom of Lubna Zahra Kalyani (lahir 13 Jan 2010)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s