Pemberian ASI: Dari Rumah hingga Perkantoran


sumber: Harian Kompas tanggal 06 Juni 2010

Tidak ada cara lain untuk ”mendobrak” dominasi susu formula pada bayi kecuali menggerakkan para ibu kembali menyusui. Dengan semangat ini, ratusan perempuan yang tergabung dalam Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) ”bergerilya” menembus dinding-dinding rumah, rumah sakit, dan kantor untuk mengedukasi para ibu tentang pentingnya memberikan air susu ibu (ASI) kepada anak-anaknya.

Edukasi ini dilakukan dengan menggelar diskusi, seminar gratis, serta sosialisasi ASI bagi kesehatan bayi. Selain itu, AIMI juga membuka kelas pelatihan menyusui. Pelatihan itu mengajarkan berbagai macam posisi menyusui, cara merawat payudara agar ASI lancar, dan lain-lain. Di perkantoran, AIMI juga menyosialisasikan agar karyawan perempuan diberi hak sepenuhnya untuk menyusui meski di lingkungan kerja.

AIMI dibentuk tahun 2007 lalu. Salah satu penggagasnya adalah Mia Sutanto (36) yang sekarang menjadi Ketua Umum AIMI. Mia terdorong membentuk AIMI karena ia pernah kesulitan saat harus menyusui anak pertamanya.

Ketika anak pertamanya lahir, Mia tidak punya pengetahuan apa pun tentang menyusui. Ia tidak bisa memosisikan bayinya agar bisa menyusui dengan santai. Hasilnya, begitu selesai menyusui badannya sakit semua. Setiap kali menyusui, Mia juga didera rasa sakit karena puting payudaranya lecet. ”Saya didampingi ibu di rumah sakit, tetapi ia juga tidak punya pengalaman karena tidak pernah menyusui anak-anaknya,” kata Mia.

Pengalaman ini yang menggerakkan AIMI untuk melakukan pendampingan bagi ibu-ibu muda yang membutuhkan. Mereka yang sedang di rumah sakit atau di rumah bisa meminta bantuan untuk didampingi saat menyusui. ”Konselor laktasi kami bisa datang ke rumah atau rumah sakit,” kata Mia. AIMI memiliki 33 konselor laktasi yang tersebar di Jakarta, Bogor, Bandung, dan Semarang.

Ibu yang merasa haknya dihalang-halangi para perawat di rumah sakit juga bisa meminta bantuan konselor laktasi dari AIMI. ”Ketika ada seorang ibu meminta anaknya dirawat satu kamar dengannya supaya bisa menyusui, namun perawat tetap memisahkan anak tersebut, maka perawat itu sudah melanggar aturan,” kata Sisca Baroto, Ketua Divisi Komunikasi AIMI. Menurut Sisca, sudah ada Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan yang memberikan sanksi pidana bagi orang yang menghalangi program pemberian ASI eksklusif. (IND)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s