Tuhan Di Mana Sih?


sumber: Tabloid Nakita No. 544/TH. XI/31 AGUSTUS – 6 SEPTEMBER 2009

gambar diambil dari SINI

Saat ayahnya tampak bersiap-siap untuk sholat, Adi berseru dengan semangat, “Ayah mau sholat!”. Lantas anak berusia 2 tahun ini pun ikut-ikutan memakai kopiah, menggelar sajadah kecil, lalu mengikuti gerakan-gerakan sholat yang dilakukan sang ayah. Tetapi sebatas itulah yang mampu dilakukan anak batita, seperti Adi ini. Si Kecil belum memahami sholat adalah ritual yang dilakukan manusia untuk menyembah Tuhan. Siapa Tuhan? Ia pun tak tahu.

Tetapi bukan berarti orangtua tidak dapat mengenalkan konsep Tuhan kepada anak usia 1 – 3 tahun. Bahkan penjelasan tentang konsep Tuhan sejak dini, merupakan bekal awal yang baik untuk anak, agar ia bisa menerapkan nilai-nilai moral sesuai ajaran agamanya kelak. Dengan mengenal konsep Tuhan melalui ritual-ritual agama, anak juga akan terbiasa dengan ritual tersebut dan kelak aka lebih mudah melaksanakan setiap ibadah dalam ajaran agamanya.

TAK TERLIHAT

Tapi bagaimana cara mengenalkan konsep Tuhan pada anak? Anak 2 – 7 tahun sedang berada pada fase pra-operasional. Begitu ujar Jean Piaget, filsuf juga psikolog perkembangan kelahiran Swiss. Artinya, untuk memahami sesuatu, Si Batita masih membutuhkan sesuatu yang konkret. Tetapi tak perlu khawatir, dengan penjelasan yang tepat, ia sebenarnya mampu membayangkan sesuatu yang abstrak; sesuatu yang tidak ada di hadapannya. “Kala bermain petak umpet, anak batita memahami kalau kita tidak ada (saat itu) tetapi sebenarnya ada,” ujar Dwi Pujiastuti, trainer ESQ for Kids.

Hal ini menguatkan asumsi bahwa meski tidak melihat secara langsung, anak-anak 1 – 3 tahun sudah bisa merasakan keberadaan sosok/hal-hal yang tidak terlihat namun sebenarnya ada (contoh orang yang tengah bersembunyi tadi). Sama halnya ketika kita mengenalkan konsep Tuhan pada batita. Walau ia tak dapat melihat-Nya, kita bisa membuatnya merasakan keberadaan Yang Mahakuasa. Bedanya, sosok/benda telah sering dilihat anak, sementara Tuhan sama sekali ia belum pernah melihatnya. Untuk itu, saran Dwi, kenalkan konsep Tuhan dengan memberi contoh berbagai hasil ciptaann-Nya. Pengenalan ini kelak akan membuatnya lebih menghargai kebesaran Tuhan lewat ciptaan-ciptaan-Nya, mudah bersyukur, serta lebih rajin beribadah.

INSPIRASI PENGENALAN

Mengenai contoh cara mengenalkan konsep Tuhan pada batita, Dwi membeberkannya sebagai berikut:

  • Bermain petak umpet. Ajak anak bermain petak umpet. Dimulai dengan kita yang bersembunyi, lalu baru dia ganti bersembunyi. Tanyakan di mana kita tadi bersembunyi. Ketika ia sanggup menunjuk tempat persembunyian tersebut, itu berarti Si Kecil mulai memahami bahwa ada konsep hilang dan muncul. Konsep ini akan menjadi modal dasar bagi anak untuk memahami sesuatu yang gaib.
  • Ajak anak merasakan sesuatu yang tak terlihat. Udara misalnya, ia tidak melihat wujudnya tetapi bisa merasakannya. Tiuplah tangan, rambut, wajah, atau bagian tubuhnya yang lain. Jelaskan padanya bahwa itu adalah udara yang kita tiup. Memang udara tidak bisa dilihat tetapi kita bisa merasakannya. Cara lain adalah dengan memanfaatkan momen membuat kue. Minta anak untuk memperhatikan meja yang awalnya “kosong”, hanya ada terigu, mentega, dan telur. kemudian setelah kue jadi minta ia melihatnya lagi. “Tadi kuenya tidak ada, sekarang ada,”. Kedua contoh ini akan menggambarkan kepada Si Batita bahwa sesuatu yang tidak terlihat belum tentu tidak ada. Seperti udara, tidak terlihat tapi kita tetap bisa merasakannya. Kue, yang sebelumnya tidak ada, menjadi ada berarti ada yang menciptakannya.
  • Nikmati keindahan alam dan pujilah Tuhan. Saat berjalan-jalan ke gunung, pantai, hutan, danau, atau air terjun, jelaskan pada anak bahwa pemandangan yang sangat indah tersebut adalah ciptaan Tuhan. Tak perlu terlalu panjang saat menjelaskan, karena tujuan kita hanya mencoba mengenalkan. perkara Si Batita memahami atau tidak, bukan masalah yang besar. Matahari, bulan, bintang, awan, hujan, binatang, pepohonan, jadikan juga semuanya itu sebagai jembatan penerangan untuk anak mengenai konsep Tuhan. dengan sesuatu yang terlihat konkret, besar, ajaib, megah, akan menimbulkan persepsinya terhadap Sang Maha Pencipta.
  • Berbicara dengan cinta. Perlakukanlah anak dengan penuh cinta. Cinta yang kita curahkan akan membentuk jiwa anak secara positif sehingga ia pun akan memandang dunia dengan cara yang sama yakni dengan penuh cinta. Kondisi ini akan memudahkan anak memahami arti cinta yang dilimpahkan Sang Maha Pemberi. “Mama sangat sayang sama Adek, Tuhan juga sayang sama Adek!”.
  • Mendongeng. Cerita tentang alam semesta, makhluk laut, tumbuhan di padang pasir, bisa kita gunakan untuk mengenalkan konsep Tuhan. Penuturan cerita dengan cara yang menyenangkan akan membuatnya tertarik. Ketertarikan akan membuatnya fokus sehingga ia akan lebih mudah memahami keberadaan Tuhan.
  • Ajak anak berdoa. Berdoa ketika akan makan, hendak tidur, kala menerima hadiah, atau ingin bepergian akan semakin mendekatkan diri Si Kecil pada-Nya. Gunakanlah kata yang sederhana, “Terima kasih Tuhan, Engkau memberiku makanan,” atau “Semoga aku selamat,” atau “Aku mau tidur, jaga aku ya Tuhan,”. Berdoa akan memberikan kesan pada anak bahwa ia sedang meminta kepada “Sesuatu” yang bisa melindungi dan menyayanginya yaitu Tuhan.
  • Ajak anak bersyukur. Bersyukur adalah bentuk dari rasa terima kasih manusia kepada Tuhan. Ajak anak bersyukur ketika sembuh dari sakit, ketika mendapatkan makanan, ketika mendapatkan hadiah, dan lainnya. “Terima kasih Tuhan, Engkau memberiku makanan,” atau “Terima kasih Tuhan, aku sudah sembuh,”. Rasa syukur membuat anak merasakan bahwa ada Yang Maha Besar telah memberinya banyak anugerah.

JIKA TAK MEMAHAMI

Bagaimana bila apa yang kita jelaskan tak juga dipahami Si Batita? Singkirkan kekhawatiran ini. Anak-anak batita, terutama yang berusia 2 tahun ke atas, sudah bisa menyerap informasi yang masuk. Setidaknya penjelasan kita tentang konsep Tuhan akan menjadi sebuah informasi baru yang masuk ke dalam otaknya, yang kelak akan membantu perkembangan kognitifnya.

Saran Dwi, dalam menjelaskan sebuah konsep abstrak kepada batita gunakan kalimat-kalimat sesederhana mungkin. kalimat panjang umumnya sulit dipahami Si Kecil dan malah bisa membingungkannya. Jadi cukup katakan, “Matahari itu ciptaan Tuhan lho, Dek!”. Hindari memberi jawaban sekenanya apalagi yang menakut-nakuti atau membumbui dengan sesuatu yang tidak relevan. Contoh, “Kalau Adek nangis terus, nanti Tuhan marah, terus Adek masuk neraka lho,”. Penjelasan ini sungguh tidak relevan dan hanya akan menakut-nakuti anak. Konsep Tuhan yang seharusnya diperkenalkan sebagai Maha Penyayang justru terkesan sebaliknya.

Jika penjelasan akan konsep Tuhan pada Si Batita ini kita rasa agak sulit, carila orang yang cukup kompeten untuk menjawab berbagai keingintahuan Si Kecil akan Tuhan. Misalnya seorang psikolog yang memahami benar tentang keagamaan, atau guru di playgroup-nya.

ditulis oleh Irfan Hasuki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s