Temper Tantrum: Panduan bagi Orangtua


diterjemahkan bebas dari: Temper Tantrums : Guidelines for Parents

oleh: Robert G. Harrington, PhD. (University of Kansas)

gambar diambil dari SINI

Setiap guru atau orangtua pasti akan menghadapi temper tantrums pada anak usia 1 – 4 tahun. Secara umum, temper tantrum bisa terjadi pada anak laki-laki maupun perempuan, dan lebih dari separuhnya mengalami hal ini setidaknya sekali dalam seminggu.

Di rumah, ada sejumlah situasi yang diprediksi bisa menjadi pemicu temper tantrum, misalnya waktu tidur, waktu makan, bangun pagi, saat berpakaian, waktu mandi, menonton televisi, saat orangtua sedang menelepon, saat ada tamu di rumah atau saat sedang berkunjung ke rumah orang lain, saat di mobil, di tempat umum, waktu melakukan kegiatan keluarga yang melibatkan kakak/adik, interaksi dengan teman, dan waktu bermain.

Situasi lainnya yang juga bisa menimbulkan temper tantrum adalah saat perpindahan dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya, saat di bus sekolah, waktu orangtua bersiap berangkat kerja, interaksi dengan anak lain, saat diperintah guru, saat kegiatan kelompok, waktu menjawab pertanyaan di kelas, saat mengerjakan tugas individual, dan saat berada di taman bermain.

Karakteristik Temper Tantrum

Anak akan merengek, mengeluh, menolak, terus minta digendong, berdebat, memukul, berteriak, berlari, dan membantah guru dan orangtuanya. Walaupun temper tantrum merupakan hal yang normal, tetap saja bisa membuat guru dan orangtua kesal karena memalukan dan sulit dikendalikan. Di sisi lain, temper tantrum juga bisa menjadi masalah tersendiri ketika muncul dengan frekuensi, intensitas, dan dalam waktu yang relatif melebihi yang biasanya terjadi pada anak seusianya.

Ada 9 tipe temperamen pada anak-anak terhadap stres:

  1. Hyperactive: anak akan berespon dengan aktivitas motorik halus atau motorik kasar.
  2. Distractible: anak lebih memberikan perhatian pada lingkungan sekitarnya daripada kepada pengasuhnya
  3. High Intensity level: anak berteriak atau memukul dengan keras ketika merasa terancam
  4. Irregular: anak akan melarikan diri dari sumber stres dengan memunculkan kebutuhan makan, minum, tidur, atau ke kamar mandi secara berlebihan pada waktu yang tidak jelas yang sebenarnya tidak ia butuhkan.
  5. Negative Persistent: anak terus menerus merengek dan mengeluh.
  6. Low Sensory Threshold: anak sering mengeluh tentang pakaian yang terlalu ketat dan banyak orang yang menatap dirinya serta menolak disentuh oleh orang lain.
  7. Initial Withdrawal: anak menjadi ‘menempel’ terus pada pengasuhnya, pemalu dan tidak responsif pada situasi baru dan banyak orang tak dikenal.
  8. Poor Adaptability: anak menolak, menutup diri  dan menjadi pasif-agresif ketika diminta untuk berganti kegiatan.
  9. Negative Mood: anak terlihat lethargic (lemas), sedih, dan tidak bertenaga untuk melakukan suatu kegiatan.

Masalah Perkembangan Anak

Pada usia sekitar 1,5 tahun, beberapa anak mulai memunculkan temper tantrum. Jenis temper tantrum ini akan muncul hingga ia berusia sekitar 4 tahun. Ada yang menyebut rentang masa ini dengan istilah “Teribble Two”, ada juga yang menyebutnya dengan “Masa Remaja Pertama” karena keinginan untuk mandiri dan tidak diatur pada usia ini serupa dengan yang muncul pada masa remaja.Terlepas dari istilah apa pun yang digunakan, temper tantrum pada dasarnya merupakan hal yang normal dan bagian dari tahap perkembangan anak.

USIA 1,5 SAMPAI 2 TAHUN. Anak pada usia ini akan menguji kesabaran orangtuanya. Mereka akan mencoba sampai di mana mereka bisa bersikap ‘melawan’ sampai orangtua atau guru menghentikan perilakunya. Pada usia 2 tahun anak akan menjadi sangat egosentris dan tidak bisa melihat dari sudut pandang orang lain. Ia menginginkan kemandirian dan self-control untuk mengeksplorasi lingkungannya. Ketika tujuannya tidak tercapai, ia menunjukkan rasa frustrasi dengan menangis, berdepat, berteriak, atau memukul. Ketika kebutuhan anak untuk mandiri ini bertemu dengan kebutuhan orangtua/guru akan keamanan dan konformitas, kondisi ini menjadi sangat cocok untuk munculnya perlawanan dan temper tantrum. Temper tantrum didesain agar orangtua/guru memenuhi tuntutan atau memberikan keinginannya. Seringkali temper tantrum langsung berhenti ketika anak memperoleh keinginannya. Yang menjadi sangat menyulitkan bagi orangtua/guru adalah kelihatannya mustahil untuk mengajak bicara dan menenangkan anak yang sedang temper tantrum, sementara mendebatnya justru akan memperburuk situasi.

USIA 3 TAHUN. Pada usia 3 tahun anak sudah tidak terlalu impulsif dan dapat berbicara untuk mengekspresikan keinginannya. Tantrum pada usia ini umumnya tidak terlalu sering terjadi dan tidak separah usia sebelumnya. Namun demikian, ada juga anak usia ini yang telah ‘belajar’ bahwa temper tantrum merupakan cara yang tepat untuk memperoleh keinginannya.

USIA 4 TAHUN. Pada usia ini umumnya anak telah memiliki keterampilan fisik dan motorik yang dapat digunakan, sehingga ia tidak terlalu membutuhkan bantuan orang dewasa. Pada usia ini anak juga memiliki keterampilan berbahasa yang sudah lebih baik sehingga ia lebih mampu mengekspresikan kemarahannya, untuk mengatasi masalahnya, dan untuk berkompromi. Walaupun demikian, kadangkala masih ada juga anak usia TK dan usia sekolah yang temper tantrum ketika dihadapkan pada tugas sekolah yang sulit dan situasi baru di sekolah.

Upaya Pencegahan bagi Orangtua dan Guru

Lebih mudah mencegah terjadinya temper tantrum daripada mengendalikannya setelah terjadi. Berikut sejumlah tips untuk mencegah temper tantrum dan apa yang bisa Anda katakan pada anak Anda:

  • Beri penghargaan pada anak atas perbuatan positif yang dilakukan. Ketika mereka melakukan hal yang baik, katakan, “Wah, baik sekali kamu mau berbagi dengan teman.”
  • Jangan menanyakan sesuatu hal yang memang sebenarnya harus mereka lakukan. Jangan bertanya, “Kamu mau makan sekarang?” tapi katakan, “Sekarang waktunya makan.”
  • Berikan kebebasan anak memilih. Dengan memberinya sedikit ‘kekuasaan’ akan mengurangi kemungkinan munculnya perlawanan darinya. Katakan hal seperti, “Mana yang mau kamu lakukan lebih dulu, menyikat gigi atau ganti piyama?”
  • Jauhkan barang-barang yang memang tidak boleh disentuhnya. Pada waktu pelajaran kesenian, misalnya, jauhkan gunting dari jangkauan anak bila ia memang belum bisa menggunakannya.
  • Alihkan perhatian anak dengan kegiatan lain ketika mereka tantrum akan suatu hal yang tidak boleh dilakukan atau tidak boleh dipegang. Misalnya, “Yuk, kita baca buku sama-sama.”
  • Pindahkan anak dari situasi yang menimbulkan temper tantrum. Katakan, “Kita jalan-jalan sebentar, yuk!”
  • Ajarkan anak untuk meminta tanpa temper tantrum dan Anda akan memenuhi permintaannya. Katakan, “Coba minta pada Ibu dengan sopan dan Ibu akan ambilkan mainan itu.”
  • Yakinkan anak telah cukup beristirahat dan sudah kenyang pada situasi yang mungkin menimbulkan temper tantrum. Anda bisa mengatakan, “Sebentar lagi makan siang siap. Sambil menunggu, ini ada biskuit untukmu.”
  • Hindari kebosanan. Katakan, “Wah, kamu sudah bekerja cukup lama. Kita istirahat dulu yuk. Kita main masak-masakan.”
  • Ciptakan lingkungan yang aman di mana anak bisa mengeksplor tanpa adanya masalah atau bahaya.
  • Tingkatkan level toleransi Anda. Apakah Anda sebenarnya bisa memenuhi kebutuhannya? Periksa kembali, sudah berapa kali Anda mengatakan “Tidak”. Hindari bertengkar karena hal-hal kecil.
  • Buatlah rutinitas dan kebiasaan sehingga anak belajar. Bagi guru, coba awali pelajaran dengan sharing-time dan adakan kesempatan agar anak bisa berinteraksi satu sama lain.
  • Beri tanda pada anak sebelum kegiatan berakhir sehingga ia bisa mempersiapkan diri. Katakan, “Nanti kalau timer-nya berbunyi 5 menit lagi, itu tandanya waktu untuk mematikan TV dan tidur.”
  • Ketika berkunjung ke tempat baru atau banyak orang tak dikenal, jelaskan padanya apa yang akan terjadi. Katakan, “Nanti di museum, jangan jauh-jauh dari temanmu ya.”
  • Berikan tugas-tugas atau kegiatan yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak agar ia tidak menjadi frustrasi bila tidak berhasil melakukannya.
  • Ajak anak bercanda untuk menarik perhatiannya dan agar ia lupa pada tantrumnya.

Intervensi bagi Orangtua dan Guru

Ada beberapa cara untuk mengatasi temper tantrum, antara lain:

  • Tetap tenang dan jangan berdebat dengan anak. Sebelum Anda mengendalikan anak, Anda harus mengendalikan perilaku Anda terlebih dulu. Memukul atau membentaknya justru akan memperburuk kondisi.
  • Pikirlah dahulu sebelum bertindak. Hitung sampai 10 dan pikir baik-baik apa yang menjadi sumber frustrasi anak, karakteristik temperamen anak terhadap stress, dan tahap-tahap peningkatan temper tantrum yang mungkin terjadi.
  • Cobalah untuk mengintervensi sebelum anak semakin sulit dikendalikan. Berjongkoklah dan tatap matanya, katakan, “Kamu sudah mulai marah-marah. Coba tenang dulu.”
  • Anda dapat mengalihkan perhatiannya dengan melakukan kegiatan yang boleh dilakukan. Misalnya, Anda bisa mengganti barang yang berbahaya dengan mainannya.
  • Anda dapat melakukan “Time-Away”, yaitu memindahkan anak ke tempat yang sepi agar anak bisa menenangkan diri, berpikir tentang apa yang harus ia lakukan, dan dengan bantuan Anda, mengubah perilakunya.
  • Anda dapat mengabaikan tantrumnya jika hal ini dilakukan untuk meminta perhatian Anda. Ketika anak sudah tenang, barulah Anda memberikan perhatian sesuai keinginannya.
  • Gendonglah anak ketika ia sudah sulit dikendalikan dan dapat menyakiti dirinya atau orang lain. Lakukan agar anak memahami bahwa Anda baru akan melepaskannya setelah ia tenang. Yakinkan anak bahwa semuanya akan baik-baik saja dan bantu anak menenangkan dirinya. Orangtua bisa memeluknya bila menangis dan katakan bahwa Anda akan selalu menyayanginya, tapi ia harus mengubah perilakunya. Cara ini bisa menenangkan seorang anak yang mungkin takut perilakunya telah di luar batas.
  • Bila anak sudah sangat sulit dikendalikan, bahkan dengan cara-cara di atas, Anda bisa melakukan “Time-Out”. Bila Anda sedang berada di tempat umum, bawalah anak Anda keluar dari sana atau ke dalam mobil. Katakan padanya kalau ia tidak bisa tenang, maka Anda akan mengajaknya pulang. Di sekolah, beri peringatan sampai 3 kali agar ia tenang. Bila anak tidak menurut, bawa ia ke tempat “Time-Out” selama waktu yang sesuai dengan usianya (1 tahun = 1 menit, 2 tahun = 2 menit, dst.)
  • Ajak anak bicara setelah ia tenang. Ketika ia berhenti menangis, bicarakan mengenai rasa frustrasi yang baru saja ia alami. Cobalah untuk mengatasi masalah yang ada, jika memungkinkan. Di masa mendatang, ajarkan pada anak hal-hal baru yang bisa menghindarkannya dari temper tantrum, seperti cara meminta bantuan dengan sopan, bagaimana berinteraksi dengan teman, bagaimana mengekspresikan perasaannya dengan kata-kata dan mengenali perasaan orang lain tanpa memukul dan berteriak.

Post-Tantrum Management

  • Jangan pernah, dalam kondisi apa pun, menyerah terhadap tantrum anak. Hal ini justru akan meningkatkan jumlah dan frekuensi tantrum itu sendiri.
  • Jelaskan pada anak bahwa ada cara yang lebih baik untuk mendapatkan keinginannya.
  • Jangan berikan penghargaan (reward) berupa apa pun setelah anak tenang dari tantrumnya. Anak bisa belajar bahwa temper tantrum merupakan cara yang bagus untuk mendapatkan hadiah sesudahnya.
  • Jangan pernah membiarkan temper tantrum mengganggu hubungan positif Anda dengan anak Anda.
  • Ajarkan anak bahwa rasa marah merupakan perasaan yang dimiliki semua orang dan ajarkan untuk mengekspresikan kemarahannya dengan lebih baik (tidak destruktif).

Kapan Harus Mencari Bantuan

BAGI ORANGTUA. Jika setelah mencoba berbagai metode intervensi di atas, tantrum justru meningkat baik dari sisi frekuensi, intensitas, maupun durasi, konsultasikan dengan dokter anak Anda. Anda juga harus berkonsultasi ke dokter jika anak Anda telah melukai dirinya atau orang lain, depresi, menunjukkan tanda-tanda rendah diri, atau ketergantungan secara berlebihan pada orangtua/guru. Dokter juga bisa memeriksa kemungkinan adanya masalah pendengaran/penglihatan, penyakit kronis, atau kondisi lainnya seperti sindrom Asperger, keterlambatan bicara, atar kesulitan belajar, yang bisa menjadi sumber temper tantrum anak Anda. Dokter juga bisa memberikan referensi psikolog atau lembaga kesehatan mental yang bisa memberikan bantuan pada Anda dan anak Anda.

Robert G. Harrington, PhD, adalah seorang Profesor pada Departement Psikologi dan Penelitian Pendidikan di University of Kansas dan telah memberikan pelatihan pada orangtua dan guru dalam hal manajemen perilaku pada anak dan remaja.

5 thoughts on “Temper Tantrum: Panduan bagi Orangtua

  1. saya mengalami masalah di kelas
    saya guru tk, kmrn ada murid sy yg tantrum krn:
    1.mendengar kata les stlh pelajaran.
    2.ketika no 1 terjadi,ibunya muncul di jendela kelas, shg anaknya smkn marah dan menyuruh ibunya masuk.
    3.saya katakan’reza boleh tdk les kok’..tp anak mlh makin mennagis menyuruh ibunya masuk.ketika itu ibunya lsng triak membela mengatakan’reza ga mau les krn ada yg nakal,bu’
    4. saya menyuruh ibunya menyingkir dr jendela,dan meraunglah anaknya sambil marah2 ke ibunya dgn kata2 kasar.contoh:masuk lo ke kesini..gue ambil palu lo! (anaknya baru berumur 5 thn)
    tindakan yg saya ambil:
    1.menutup pintu+jendela,membiarkan anak menangis dipojok ruangan. dengan sblmnya memberi pengertian tidak ikut les tdk apa-apa, kalo mau bertemu mama harus yg baik,tidak teriak2.
    2.stlh kelas selesai, dan anak berkurang marahnya walo msh nangis, sy membiarkan bertemu ibunya.namun yg terjadi smkn marah dan melempar hp ibunya. ibunya tdk berdaya shg sy pun menolong ibunya agr tdk dipukuli.
    3. saya memberi instruksi,ibu+anak tdk boleh pulg dl sblm anaknya mw berhenti mukul dan menangis.
    4.stlh reda walo msh ngambek,mereka pulg.dgn sblmnya sy beri pengertian ke mamanya ttg tindakna saya serta memberitahu mamanya agar tdk tll memanjakan si anak.
    yg saya tanyakan:
    1.termasuk kategori apakah murid saya ini?
    2.apa yg sy lakukan stlh kejadian tsb,si anak tdk mw msk skolah slm 2 hari?(sy sll sms ke mamanya,menanyakan kbr)
    3.bagaimana tindakan yg ideal?
    terimakasih..sblmnya,sy sangat berharap segera mendapat jawabannya.
    regards
    arin

    • Ibu Arin, saya akan coba bantu sebisanya ya🙂
      Berikut pertanyaan ibu:

      1.termasuk kategori apakah murid saya ini?
      kalau dilihat dari pembagian kategori di dalam artikel di atas, murid ibu tsb bisa digolongkan dalam kategori High Intensity level, di mana anak berteriak atau memukul dengan keras ketika merasa terancam.

      2.apa yg sy lakukan stlh kejadian tsb,si anak tdk mw msk skolah slm 2 hari?(sy sll sms ke mamanya,menanyakan kbr)
      agak sulit menentukan tindakan selanjutnya sebelum ibu mengetahui secara pasti apa penyebab tantrum murid ibu tsb. menurut cerita ibu, si anak tantrum setelah mendengar kata “les”. sepertinya itu bukan penyebab tapi hanya pemicu saja. perlu ditelusuri lebih jauh latar belakang sebelum terjadi peristiwa tantrum tsb. apakah ini baru pertama kalinya? bagaimana perilaku anak di sekolah? bagaimana interaksi anak dengan teman2nya? bagaimana hubungan dengan orangtua di rumah? apalagi kalau dilihat ibu si anak sampai dilempar hp dan dipukuli oleh anaknya, sepertinya penyebab utama bukan karena les. jadi ibu sebaiknya mencari tahu dulu penyebabnya baru kemudian bisa menentukan langkah berikutnya.

      3.bagaimana tindakan yg ideal?
      tidak ada tindakan yg ideal, karena tiap individu itu unik. saran saya, ada baiknya ibu panggil kedua orangtua murid tsb, untuk kemudian bicara secara mendalam agar bisa digali lebih lanjut bagaimana interaksi hubungan antara anak dan orangtuanya. karena dari pengalaman dan beberapa literatur yg pernah saya baca, sikap anak itu biasanya merupakan reaksi protes atau cari perhatian, dalam hal ini terhadap lingkungan terdekatnya yaitu orangtua. bila ibu masih menemui kesulitan, ada baiknya dikonsultasikan juga dengan psikolog sekolah untuk tindakan lebih lanjut.

      maaf kalau jawaban saya kurang memuaskan, tapi semoga membantu ya bu🙂 kalau masih ada yg ingin ditanyakan, silakan. saya coba bantu semampunya.

  2. pagi mba…. mhn bantuan dan informasinya…
    saya seorang single parent yang menitipkan asuhan sementara kepada orang tua di luar kota..saya termasuk orang yang emosional…. anak saya seorang yang cukup aktif dan tidak bisa diam…bila mempunyai keinginan, contohnya : mau makan bakso di tempat, maka kalau di bawa pulang ngamuk..ngamuknya sampe mukul2orang…tenaganya jadi dua kali kuatnya..bagaimana cara mengatasi nya? apa masih normal?atau perlu psikolog?terimakasih.ayu

    • Pagi mbak Ayu🙂
      Sebelum bisa ditentukan apakah hal tsb masih normal/ngga dan bagaimana cara mengatasinya, perlu dilihat lebih mendalam untuk tahu apa penyebabnya.

      Untuk kasus2 psikologis seperti ini, bisa banyak faktor penyebabnya. Berapa usia anaknya mbak? Bagaimana perilakunya di sekolah? bagaimana pola asuh yang diterapkan oleh orangtua mbak? seberapa sering mbak bertemu dengan anak mbak? Dan masih banyak lagi.

      Masih terlalu dini untuk menyimpulkan, tapi biasanya tingkah laku anak yang cenderung negatif merupakan sikap protes, cari perhatian, atau cara ia mengungkapkan kekesalannya. maka dari itu perlu dicari dulu apa penyebabnya, baru bisa ditentukan cara mengatasinya.
      Saran saya, kalau memang sikap anak mbak dirasakan sudah mengganggu dan membahayakan dirinya dan orang lain, ada baiknya dikonsultasikan ke psikolog. kalau mbak berlokasi di Jakarta, saya kebetulan memiliki referensi psikolog yang bisa mbak mintakan pendapat.
      Semoga membantu mbak🙂

  3. Pingback: Cara Mengendalikan Rasa Marah terhadap Anak | Bayi Sehat Balita Cerdas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s