Bayi Sering Menangis – Apakah Ini Tandanya ASI Tidak Cukup?


gambar diambil dari SINI

Pernah merasa ASI kurang karena bayi menangis terus..? Stres dan panik karena takut ASI tidak akan cukup untuk bayi anda..? Yuk, simak artikel dari ketua AIMI yang juga seorang konselor laktasi tentang hal-hal yang menyebabkan seorang bayi menangis.

===========================================================================================

sumber: Bayi Sering Menangis – Apakah Ini Tandanya ASI Tidak Cukup?

Jujur saja, selama pengalaman saya sebagai seorang konselor laktasi, inilah yang paling ditakuti oleh seorang ibu menyusui; bayinya nangis terus padahal baru saja disusuin selama 1 jam, bayinya nangis terus padahal sudah sering disusuin setiap setengah jam sekali, baru saja diletakkan ditempat tidur, 15 menit kemudian sudah bangun lagi dan minta disusuin. Haduh, apakah ini tandanya ASI tidak cukup ya…?!

Mungkin yang perlu pertama kali diingat adalah, bayi belum bisa berbicara. Satu-satunya cara seorang bayi berkomunikasi dengan orangtuanya adalah melalui tangisan. Makanya para pakar sepakat bahwa apabila orangtua langsung menanggapi dan merespon tangisan bayinya, terutama pada bulan-bulan awal kehidupan sang bayi, hal tersebut tidak akan membuat si bayi menjadi manja, justru sebaliknya, bayi akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan percaya diri karena dia merasa selalu ’didengar’ oleh orangtuanya.

Bagaimana caranya bayi memberitahukan ibu bahwa ia sedang lapar…? Ya tentu melalui tangisan. Tetapi apakah berarti setiap kali bayi menangis tandanya ia sedang lapar…? Belum tentu. Yuk, kita simak satu persatu apa kiranya yang menyebakan seorang bayi menangis, terutama dalam kaitannya dengan pemberian ASI dan masa menyusui.

1. Bayi Baru Lahir Butuh Penyesuaian

Setelah 9 bulan didekap dengan hangat dan lembut dalam rahim bunda, diiringi dengan kedamaian suara detak jantung bunda…tiba-tiba harus lahir ke dunia yang terang benderang, berisik, ramai, dingin, penuh dengan orang-orang yang tidak dikenal…gak heran ya bayi yang baru lahir langsung nangis sekencang-kencangnya.

Disinilah salah satu manfaat dilakukannya IMD (inisiasi menyusu dini), ternyata bayi akan berhenti menangis apabila langsung diletakkan diatas dada ibunya, dan tingkat hormon stresnya akan menurun sebesar 50%.

Bayangkan kita harus tinggal di negara lain, belum pernah kesana, tidak kenal siapa-siapa, tidak bisa berbahasa setempat, belum biasa (cocok) dengan makanan setempat…belum lagi terdapat perbedaan musim dan waktu (disini siang, disana malam).

Begitulah kira-kira apa yang dialami seorang bayi baru lahir, semua serba asing, serba baru, serba belum bisa. Satu-satunya usaha yang bisa dilakukan adalah dengan berkomunikasi…melalui tangisannya.

2. Bayi Baru Lahir Butuh Rasa Aman dan Nyaman

Mama… aku gak nyaman nih, aku abis pipis/pup…
panas bunda, kipas anginnya kurang kencang…
ibu, AC-nya dikecilkan dong, aku kedinginan nih…
wah, aku digigit nyamuk lagi bunda, gatal…
mama, bajuku kasar…
ibu, aku pegal tidur diposisi ini terus…
aduh, sakit bunda, tanganku kepentok pinggiran tempat tidur…
ummi, aku bosan disini terus, gendong ya…
ibu, perutku kembung nih…
mama, aku lapaaaaarrr…!!!

Semua itu dia komunikasikan melalui tangisan. Belum lagi seorang bayi baru lahir sangat butuh perasaan aman, dan itu hanya dia dapatkan dari dekapan hangat penuh cinta bundanya, terutama pada saat-saat menyusui. Wah, gak heran ya seorang bayi sering menangis.

3. Menyusui: Memenuhi Rasa Haus, Lapar dan Comfort

Hal yang seringkali tidak disadari oleh para orangtua adalah, bayi menyusu bukan saja karena lapar tetapi terkadang bayi hanya haus, dan di lain waktu bayi menyusu karena membutuhkan rasa nyaman dari dekapan sang bunda (http://www.kellymom.com/store/handouts/newborn/sleep.pdf).

Bagaimana bila bayi sedang dalam fase tumbuh gigi, atau sedang dalam proses pencapaian salah satu milestone-nya, atau bayi sedang sakit dan tidak enak badan? Semua itu dia komunikasikan melalui tangisannya, dan semua itu dapat menyebabkan seorang bayi menjadi sangat membutuhkan rasa nyaman yang diperoleh pada saat sedang menyusu.

4. Kapasitas Perut Seorang Bayi

Kenapa kolostrum diproduksi dalam jumlah yang sangat sedikit (setiap kali bayi menyusu pada hari-hari pertama, hanya minum 1-2 sendok teh kolostrum)..? Ini dikarenakan pada hari pertama kapasitas lambung seorang bayi baru lahir hanyalah sebesar 5-7ml setiap kali minum.

Iya, ukuran lambungnya hanya sebeser kelereng (gundu), dan dinding lambungnya tidak bisa melar untuk menampung lebih banyak cairan. Makanya bayi baru lahir HANYA membutuhkan kolostrum, kualitas dan kuantitasnya secara sempurna memenuhi kebutuhan sang bayi

(http://www.llli.org/images/InfantStomach.jpg).

Pada hari ke-3, ukuran lambung bayi membesar menjadi seukuran bola bekel, atau seukuran kepalan tangannya, sehingga sekali minum lambung sudah bisa menampung 22-27ml (biasanya pad ahari ke-3 ini, kolostrum mulai berubah menjadi ASI transisi dan volumenya juga bertambah).

Pada hari ke-7, lambung kembali membesar seukuran bola pingpong, dan bayi mulai bisa minum 45-60ml setiap kali menyusu. Hari ke-10, ukuran lambung bayi kurang lebih sama dengan telur ayam yang besar, dan kapasitasnya bertambah menjadi sekitar 60-81ml sekali minum (makanya pada usia sekitar 10-14 hari, bayi mengalami percepatan pertumbuhan yang pertama – lihat keterangan dibawah ini).

Kalau sudah tahu gini, jangan kaget ya kalau ternyata bayi anda menyusu setiap 1-1,5 jam atau bahkan kurang dari itu. Ternyata ukuran lambung bayi memang sangat kecil, jadi hanya bisa menampung sedikit setiap kali menyusu sehingga bayi perlu SERING menyusu.

5. ASI Sangat Mudah Diserap dan Dicerna

Selain faktor ukuran lambung bayi yang memang kecil, ternyata ASI sangat mudah diserap dan dicerna oleh tubuh bayi. Semua nutrisi yang terkandung dalam ASI sangat cocok dan mudah diserap oleh pencernaan seorang bayi manusia, dan ASI mengandung enzim-enzim pencernaannya sendiri (http://www.enotalone.com/article/3606.html).

Jadi bayangkan, begitu masuk kedalam lambung, ASI langsung dicerna dan diserap secara sempurna oleh tubuh bayi, ditambah dengan ukuran lambung bayi yang masih sangat kecil. Tidak heran kan kalau bayi ASI lebih cepat dan mudah merasa lapar kembali.

6. Produksi ASI: Supply and Demand

Memang betul, selama periode menyusui, produksi ASI sangat ditentukan oleh prinsip supply and demand. Artinya, semakin sering payudara diisap dan dikosongkan, maka semakin sering dan semakin banyak ASI akan diproduksi.

Namun, hal tersebut tidak berlaku pada hari 1-3 setelah kelahiran bayi (http://www.kellymom.com/bf/supply/milkproduction.html), pada saat-saat tersebut produksi ASI lebih ditentukan oleh kerja hormon prolaktin. Tapi bayi tetap perlu sering menyusu untuk mendapatkan kolostrum secara maksimal, mengingat ukuran lambung bayi yang masih sangat kecil.

Pada saat kolostrum berubah menjadi ASI transisi (sekitar hari ke-2 atau ke-3), maka mulailah prinsip supply and demand tersebut dan di masa-masa awal ini, terkadang antara supply dan demand belum cocok. Misalnya: demand bayi sudah besar, tetapi supply ASI masih sedikit sehingga bayi akan sangat sering menyusu (karena sering lapar dan untuk meningkatkan produksi ASI) dan menangis karena lapar.

Atau, supply ASI sudah sangat banyak, tetapi demand-nya masih sedikit. Walhasil bayi sering menangis pada saat sedang menyusu karena aliran ASI sangat banyak, atau menangis setelah selesai menyusu karena terlalu banyak menelan udara sehingga kembung.

7. Percepatan Pertumbuhan (Growth Spurt)

Percepatan pertumbuhan tidak hanya terjadi pada bayi, tetapi hal ini akan terus terjadi sampai dengan bayi menjadi seorang remaja.

Namun pada bayi, kondisi ini biasanya hanya berlangsung sekitar 3 hari dan terjadi di usia 10-14 hari, 3 minggu, 6 minggu, 3 bulan, 6 bulan dan 9 bulan (http://breastfeeding.about.com/od/breastfeedingbystage/a/growthspurts.htm).

Pada periode ini, bayi mengalami pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental yang sangat cepat, sehingga membutuhkan ekstra kalori untuk mengimbanginya. Pada bayi ASI, ekstra kalori tersebut didapat dengan cara meningkatkan produksi ASI ibunya dan cara yang paling ampuh untuk meningkatkan produksi ASI adalah dengan bayi lebih sering menyusu.

8. Faktor Psikis dan Kesehatan Fisik Ibu

Bayangkan skenario ini: seorang ibu baru saja selesai menyusui bayinya yang berusia 10 hari kemudian secara perlahan-lahan (supaya tidak membangunkan) meletakkan bayi tersebut di tempat tidurnya. 15 menit kemudian bayinya terbangun lagi dan menangis, dan si ibu kembali menyusui bayinya selama setengah jam.

Selesai menyusui, ibu beringsut-ingsut ke kamar mandi karena dari pagi belum mandi. Baru hendak melepaskan pakaian, terdengar lagi suara tangisan bayinya. Ibu menjadi stres, cemas, takut dan khawatir ASI-nya pasti tidak cukup/hanya sedikit sehingga bayinya jadi sering terbangun dan menangis karena lapar.

Belum lagi rasa capek, pegal, (sisa) sakit akibat persalinan, baby blues, dan pola makan yang belum teratur karena terlalu sibuk mengurus sang buah hati.

Kombinasi dari beberapa faktor di atas bisa mempengaruhi kelancaran ASI (http://www.breastfeed.com/articles/overcoming-difficulties/stressed-out-and-dried-up-3259/), mempengaruhi kerja hormon oksitosin sehingga Let Down Reflex (LDR) menjadi terhambat dan bayi tidak dapat minum ASI dengan puas sampai kenyang. Akibatnya, baru selesai disusui, bayi akan menangis lagi untuk minta disusui lagi karena sebenarnya dia belum kenyang.

9. ASI Yang Diperah ≠ ASI Yang Diproduksi

Inilah kesalahan yang seringkali dilakukan oleh para ibu; memerah ASI untuk melihat berapa banyak ASI yang mereka hasilkan. Jumlah ASI yang berhasil diperah/dipompa hanya menunjukkan seberapa banyak si ibu bisa memerah/memompa ASInya, BUKAN seberapa banyak si ibu bisa memproduksi ASI.

Berapa banyak ASI yang bisa diperah/dipompa sangat tergantung pada beberapa hal, misalnya: apakah LDR berfungsi pada saat sedang memerah/memompa, seberapa lihai ibu memerah dengan tangan atau menggunakan pompa ASI, apakah teknik yang digunakan sudah benar, apakah pompa ASI dalam keadaan prima (tidak ada bagian yang rusak), dll.

Kemampuan ibu untuk memerah/memompa ASInya jauh dibawah kemampuan si bayi untuk mengisap dan mengeluarkan ASI dari payudara. Itupun bayi rata-rata hanya bisa ’mengosongkan’ payudara sekitar 70% dari kapasitas produksi.

10. Posisi Menyusui dan Pelekatan

Mungkin salah satu hal yang paling menentukan apakah bayi dapat mengeluarkan ASI secara efektif dari payudara ibunya, sehingga dapat minum ASI sampai puas, adalah posisi menyusui (http://www.mayoclinic.com/health/breast-feeding/FL00096) serta pelekatan mulut bayi pada payudara si ibu (http://www.breastfeeding.com/helpme/helpme_images_latchon.html).

Banyak faktor yang mempengaruhi posisi dan pelekatan ini, seperti anatomi payudara (besar, kecil, dll) serta puting (besar, kecil, datar, dll) ibu dan anatomi mulut bayi (celah bibir, lidah pendek, dll). Apabila posisi menyusui dan/atau pelekatan mulut bayi masih kurang tepat, ada kemungkinan bayi tidak dapat mengeluarkan dan minum ASI secara maksimal dari payudara ibunya. Akibatnya, walaupun bayi sering dan lama menyusunya, dia akan cepat menangis dan lapar kembali karena sebenarnya belum kenyang.

11. Produksi ASI Memang Sedikit (1 dari 1000 Wanita)

Pada akhirnya, dari 1000 wanita yang mengaku ASInya sedikit atau kurang, ada 1 yang memang betul-betul tidak dapat menghasilkan ASI untuk mencukupi kebutuhan bayinya. Hal ini biasanya disebabkan oleh kelainan anatomi pada payudara dan/atau gangguan hormon ASI pada si ibu (http://www.lactationconsultant.info/how.html).

     

    APA YANG DAPAT ANDA LAKUKAN…?

    Untuk (1), (2) dan (3), terimalah secara ikhlas bahwa keadaan bayi memang demikian, bayi tidak melakukan semua itu karena dia manja atau dengan tujuan memanipulasi dan dengan sengaja menyusahkan orangtuanya, tetapi karena memang bayi membutuhkannya. Untuk (4), (5), (6) dan (7), pelajari, waspadai dan antisipasi keadaan.

    Dengan tahu bahwa kapasitas lambung bayi sangat kecil, bahwa ASI sangat mudah diserap, bahwa ASI diproduksi berdasarkan prinsip supply and demand dan bahwa bayi akan beberapa kali mengalami periode percepatan pertumbuhan, normal kan kalau bayi akan sering menyusu pada ibunya…?

    Untuk (8), hindari kondisi ini. Otak ibu bagaikan sebuah komputer, apabila sudah terkena ’virus’ stres, cemas, khawatir, takut dan tidak percaya diri, maka kerja hormon-hormon ASI akan terhambat. Untuk (9), wah, hindarilah. Tidak perlu melakukan ini, salah-salah malah akan menambah ’virus’ di otak ibu.

    Untuk (10), pelajari… pelajari dan pelajari. Silahkan ikut Kelas Edukasi AIMI: Breastfeeding Basics untuk mempraktekkan secara langsung berbagai posisi menyusui serta pelekatan mulut bayi pada payudara. Jangan ragu untuk meminta bantuan seorang konselor menyusui ataupun ke klinik laktasi apabila memang dirasakan ada masalah seputar posisi menyusui dan pelekatan bayi.

    Untuk (11), apabila segala permasalahan (1) sampai (10) sudah berhasil diatasi namun ternyata produksi ASI memang sedikit (http://www.llli.org/FAQ/enough.html), dan setelah dilakukan pengecekan dan tes kesehatan bahwa memang ibu mengalami kelainan anatomi payudara ataupun gangguan hormonal yang menyebabkan produksi ASI sedikit, maka dapat diberikan suplementasi melalui ASI donor (http://aimi-asi.org/2008/02/donor-asi-aman-ngga-ya/) ataupun susu formula supaya bayi tidak terkena gejala ’failure to thrive’ (http://www.wrongdiagnosis.com/f/failure_to_thrive/intro.htm).

    Pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) sebagai salah satu bentuk suplementasi sangat tidak dianjurkan untuk bayi yang masih berusia dibawah 6 bulan (http://www.kellymom.com/nutrition/solids/delay-solids.html).

    So mom, ternyata karena ukuran lambung yang kecil serta komposisi ASI yang sangat mudah diserap dan dicerna oleh bayi menyebabkan ia jadi sering menyusu. Apalagi ditambah dengan faktor growth spurt serta ingin selalu mendapatkan rasa aman dan nyaman, sepertinya bayi tidak pernah lepas dari dekapan kita ya…?

    Menangis merupakan satu-satunya cara bagi bayi untuk berkomunikasi, tapi ingat, menangis tidak selalu berarti bayi sedang lapar. Pada saat bayi anda nanti tumbuh dewasa, menjadi manusia sempurna yang sehat, cerdas dan berakhlak baik, momen-momen ”berat” ini dimana seolah-olah bayi tidak pernah lepas dari payudara anda ternyata hanya merupakan ’sedetik’ dari perjalanan panjang hidupnya, dan momen-momen itu akan berlalu dalam sekejap.

    Breastfeed with love…!!!

    Salam ASI!
    Mia Sutanto, SH, LL.M
    Konselor Menyusui – Ketua AIMI

    2 thoughts on “Bayi Sering Menangis – Apakah Ini Tandanya ASI Tidak Cukup?

    1. wowww…wacana yg very2 good for mom…jd lebih bisa sabar menghadapi si baby yg menangis…apalagi dg contoh kita berada ditempat yg asing…(no 2) benar2 perumpamaan yg pas,sedikit berasa bersalah krn sebelumnya sempat mengeluh dlm hati…setelah baca wacana ini pikiran jd lebih terbuka,thanks

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s